Thursday, February 27, 2014

Hujan dan Musim Banjir

Hujan dan Musim Banjir
Hujan dan Musim Banjir, Selamat pagi, Sejak Januari hingga sekarang masih musim hujan di kawasan Jabotabek, Indonesia pada umumnya. Dimana-mana banjir, mengakibatkan males bangun dari peraduan.

Hujan yang melanda kawasan Jabotabek sungguh di luar prediksi dan mengakibatkan ribuan rumah tergenang, jalan-jalan pada rusak di tambah masalah lama "Macet".

Saya bukannya mau mengeluh, tapi di Jakarta memang semakin susah, untungnya saya tidak bekerja di Perusahaan orang lagi, sejak awal 2013 saya saya sudah buka usaha kecil-kecilan, sehingga tidak repot harus bangun pagi, berangkat ke kantor dan juga tidak bermacet ria. Saya keluar rumah menjelang siang saja. Setelah Macet terurai.

Menjadi seorang pemula dalam wiraswasta, saya bisa meminjam kalimat yang sering di ucapkan Sutan Batagana: "Ngeri-ngeri Sedap", Sedapnya: kalau dapat project yang lumayan hanya di bagi sendiri saja, tidak perlu bermacet ria, tidak harus bangun pagi-pagi, sesantainya saja. Ngerinya: kalau tidak ada project, dapurpun tidak ngebul...hahahhaha. Seperti Hujan dan Musim Banjir Jaman sekarang (terbalik ya? harusnya, musim hujan dan banjir kan, bagaiman tidak ga musim banjir, kykna banjir sudah rutin setiap tahun, sehingga bisa disebut musim banjir), saya tidak perlu berbasah-basahan pergi ke kantor.

Saya sangat Pesimis, masalah banjir dan kemacetan di Jakarta dapat di selesaikan kalau jumlah penduduk Jabotabek terus bertambah, sementara jumlah penduduk di Jabotabek Hampir mustahil di kurangi. Jumlah penduduk Jakarta (Batavia) Pada tahun 1900 adalah 500ribuan Jiwa tapi Batavia wakatu itu masih banjir, sehingga Belanda Membangun Waduk-waduk dan pintu air yang ada sekarang. Yang artinya, daerah kawasan rawa atau resapan air di Jabotabek sangat Luas, hutan-hutan dan pohon yang masih sangat banyak tapi masih banjir. Sekarang, malah semuanya tidak jelas, hutan mana, pemukiman yang mana, situ berubah jadi komplek perumahan.

Kepada peminpin kota Jakarta, rasanya mustahil untuk bisa mengatasi hal ini, kecuali penduduk Jabotabek bisa dikurangi setiap tahunnya. Mustahil bukan?

Jabotabek masih kota yang memiliki magnet yang besar bagi penduduk Indonesia, Indonesia sangat luas, sangat besar, kalau ada 100 orang dari setiap kecamatan datang setiap tahunnya dan mengadu nasib di Jabotabek, Mau jadi apa Jabotabek 2025. hahaha, mengerikan.

Apa solusinya:
Stop pendatang baru dari luar Jabotabek, perusahaan (terutama Pabrik) yang ada di Jabotabek Pindahkan ke luar Jabotabek. Mustahil bukan?

Adakah yang bisa mengubah energi hujan menjadi energi lain?

No comments :